Politik Indonesia memang unik. Di tengah persoalan rakyat yang kian kompleks, para elite masih sempat melempar guyonan. Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, misalnya, melontarkan candaan kepada Presiden Prabowo Subianto soal program 3 juta rumah. “Kalau sudah berdiri 3 juta rumah, boleh senyum,†begitu kira-kira isi guyonannya.
Kalimat itu terdengar ringan. Mengundang tawa. Namun di balik candaan tersebut, tersimpan pesan yang sebenarnya sangat serius: program 3 juta rumah bukan pekerjaan kecil. Bahkan bisa menjadi salah satu ujian terbesar pemerintahan Prabowo.
Target 3 juta rumah memang terdengar heroik. Angkanya besar, visinya megah, dan sangat menjual secara politik. Di negara dengan backlog perumahan yang masih tinggi, program ini tentu menjadi harapan jutaan rakyat kecil yang hingga kini belum memiliki tempat tinggal layak.
Namun publik juga tidak bodoh. Rakyat tahu membangun rumah bukan sekadar pidato dan seremoni peletakan batu pertama.
Pertanyaan besarnya sederhana: dari mana anggarannya, siapa yang membangun, di mana lahannya, dan bagaimana pengawasannya?
Sebab pengalaman selama ini menunjukkan, banyak program besar akhirnya terjebak dalam angka-angka pencitraan. Yang diresmikan banyak, tetapi yang benar-benar selesai dan dihuni rakyat jauh lebih sedikit. Ada pula proyek yang mangkrak, kualitas buruk, hingga persoalan mafia tanah yang terus menghantui sektor perumahan nasional.
Di sinilah guyonan Fahri Hamzah terasa menarik. Ia seolah sadar bahwa senyum kemenangan belum pantas ditunjukkan sebelum target benar-benar terwujud. Karena rakyat hari ini sudah terlalu sering disuguhi janji besar yang berhenti di baliho dan konferensi pers.
Program 3 juta rumah bukan hanya soal membangun bangunan fisik. Ini soal kemampuan pemerintah menghadirkan rasa keadilan sosial. Sebab rumah bagi rakyat kecil bukan sekadar tempat berteduh, tetapi simbol harapan untuk hidup lebih manusiawi.
Ironisnya, di saat pemerintah bicara jutaan rumah, harga tanah justru terus melambung. Kredit rumah makin sulit dijangkau sebagian masyarakat. Sementara di kota-kota besar, generasi muda mulai merasa memiliki rumah hanyalah mimpi mahal yang semakin jauh.
Karena itu publik tentu berharap program ini tidak berubah menjadi proyek mercusuar politik semata. Jangan sampai angka 3 juta rumah hanya menjadi slogan besar yang dipakai untuk membangun optimisme sesaat, tetapi rapuh dalam pelaksanaan.
Fahri Hamzah boleh bercanda soal senyum Presiden. Tetapi rakyat sebenarnya menunggu sesuatu yang lebih penting dari sekadar senyuman: bukti nyata.
Sebab rakyat tidak membutuhkan janji yang terdengar megah. Rakyat hanya ingin satu hal sederhana — rumah yang benar-benar bisa mereka tempati.