DELI SERDANG – Bisnis haram memang menjanjikan keuntungan besar. Namun ketika polisi datang mengetuk pintu, kemewahan yang dibangun dari uang narkoba bisa berubah menjadi barang sitaan.

Satresnarkoba Polrestabes Medan menangkap seorang bandar narkoba berinisial DH alias A di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Dari tangan pelaku, polisi menyita ribuan butir ekstasi, ratusan pod vape mengandung narkoba, uang ratusan juta rupiah, hingga tiga mobil mewah yang diduga berasal dari hasil bisnis gelap tersebut.

Pengungkapan dilakukan di sebuah rumah di Jalan Setia Raya, Desa Muliorejo, Kecamatan Sunggal. Polisi menemukan 10.447 butir ekstasi, 828 pod vaping liquid, 59,36 gram ganja, empat sepeda motor, tiga mobil mewah, serta uang tunai senilai Rp246 juta.

Kasat Resnarkoba Polrestabes Medan Kompol Rafli Yusuf Nugraha menyebut pelaku merupakan residivis kasus narkoba yang kerap berpindah-pindah tempat tinggal untuk menghindari kejaran aparat. Dalam sebulan, pelaku disebut bisa beberapa kali berpindah lokasi kontrakan.

Besarnya barang bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa peredaran narkoba kini tidak lagi hanya mengandalkan metode lama. Modus baru berupa vape atau rokok elektrik yang mengandung zat terlarang semakin marak dan menyasar berbagai kalangan, termasuk generasi muda.

Yang menarik, polisi tidak ingin kasus ini berhenti pada penangkapan bandar dan penyitaan barang bukti semata. Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak meminta penyidik mengembangkan perkara tersebut ke ranah Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Langkah itu menjadi penting karena bisnis narkoba tidak hanya merusak kesehatan masyarakat, tetapi juga melahirkan kekuatan ekonomi ilegal yang mampu membeli kendaraan mewah, properti, hingga aset bernilai tinggi.

Ketika seorang bandar bisa mengumpulkan tiga mobil mewah dan ratusan juta rupiah dari bisnis haram, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya masa depan para pengguna narkoba. Yang terancam adalah tatanan sosial yang perlahan dirusak oleh uang hasil kejahatan.

Perang terhadap narkoba tidak cukup hanya menangkap pelaku. Akar persoalan baru benar-benar tercabut ketika seluruh keuntungan hasil kejahatan ikut dirampas negara.

Sebab bagi bandar narkoba, kehilangan kebebasan memang menyakitkan. Namun kehilangan seluruh aset hasil kejahatan sering kali jauh lebih menakutkan.

Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com

Reporter: Redaksi