PEKANBARU – Setelah sempat bertahan di level Rp12.900 per liter, harga Pertamax di Riau resmi melonjak menjadi Rp17.000 per liter mulai Rabu (10/6). Artinya, terjadi kenaikan sebesar Rp4.100 per liter dalam satu kali penyesuaian harga. Kenaikan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi sebagian orang, angka Rp4.100 mungkin terlihat kecil. Namun bagi pengguna kendaraan yang mengisi bahan bakar puluhan hingga ratusan liter setiap bulan, dampaknya langsung terasa di kantong.

Jika sebelumnya pengendara mengisi 40 liter Pertamax dengan biaya sekitar Rp516 ribu, kini jumlah yang sama membutuhkan dana Rp680 ribu. Ada tambahan pengeluaran sekitar Rp164 ribu hanya untuk satu kali pengisian penuh. Dalam sebulan, angka itu bisa berlipat ganda.

Kenaikan harga tersebut mengejutkan banyak pihak karena biasanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan pada awal bulan. Namun kali ini perubahan terjadi di tengah bulan, memicu berbagai spekulasi dan keluhan dari masyarakat.

Di SPBU-SPBU Pekanbaru, kabar kenaikan harga cepat menyebar di kalangan pengendara. Tidak sedikit yang mengaku terkejut ketika melihat angka pada mesin pengisian berubah drastis dibandingkan pekan sebelumnya.

Kelompok yang paling merasakan dampak tentu para pekerja yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk mobilitas harian. Mulai dari pegawai swasta, pelaku UMKM, hingga pengemudi transportasi online yang selama ini memilih Pertamax demi menjaga performa kendaraan.

Mereka kini dihadapkan pada pilihan sulit. Tetap menggunakan Pertamax dengan biaya lebih mahal atau beralih ke BBM yang lebih murah untuk menekan pengeluaran.

Namun persoalannya tidak sesederhana itu.

Sebagian kendaraan keluaran terbaru direkomendasikan menggunakan bahan bakar dengan angka oktan tertentu agar performa mesin tetap optimal. Karena itu, tidak semua pengguna bisa begitu saja berpindah jenis BBM tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kendaraan.

Kenaikan harga Pertamax juga berpotensi menimbulkan efek berantai pada sektor lain. Ketika biaya transportasi naik, biaya distribusi barang ikut terdorong. Ketika distribusi menjadi lebih mahal, harga berbagai kebutuhan masyarakat berpotensi ikut bergerak naik.

Efek tersebut mungkin tidak langsung terlihat hari ini atau besok. Namun pengalaman selama ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan energi hampir selalu diikuti penyesuaian biaya di berbagai sektor.

Ekonom menilai kelompok kelas menengah menjadi salah satu pihak yang paling rentan terdampak. Mereka tidak lagi menikmati subsidi BBM, tetapi juga belum sepenuhnya memiliki ruang keuangan yang cukup untuk menyerap kenaikan biaya hidup secara terus-menerus.

Di sisi lain, Pertamina menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti dinamika harga minyak dunia dan kondisi pasar energi global. Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak internasional kembali mengalami tekanan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pasokan energi dunia.

Meski demikian, penjelasan tersebut belum tentu mampu meredam keresahan masyarakat. Bagi warga, persoalan utama bukanlah rumus penentuan harga atau fluktuasi pasar global. Yang mereka rasakan adalah biaya hidup yang terus bertambah sementara pendapatan belum tentu ikut meningkat.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian daerah. Di tengah daya beli masyarakat yang masih berusaha pulih, kenaikan harga BBM nonsubsidi dapat menjadi faktor tambahan yang menekan pengeluaran rumah tangga.

Pada akhirnya, setiap kenaikan harga BBM selalu menghadirkan pertanyaan yang sama: sampai sejauh mana kemampuan masyarakat untuk terus menyesuaikan diri?

Sebab bagi banyak keluarga, persoalan hari ini bukan lagi sekadar memilih jenis bahan bakar. Melainkan bagaimana menjaga agar pengeluaran tidak lebih cepat melaju dibandingkan pendapatan.

Dan ketika jarum pengisian BBM bergerak naik lebih cepat daripada isi dompet, keresahan masyarakat biasanya ikut bergerak mengikuti.

Reporter: Redaksi