Pencarian

RadarIndoMedia TV YouTube

Golkar, PDIP, dan Politik “Penyeimbang” yang Mulai Dipertanyakan Publik

Sabtu, 20 Juni 2026 • 17:23:32 WIB
Golkar, PDIP, dan Politik “Penyeimbang” yang Mulai Dipertanyakan Publik

Panggung politik nasional kembali memanas. Kali ini bukan soal reshuffle kabinet, bukan pula drama perebutan kursi kekuasaan. Yang menjadi sorotan justru posisi politik PDI Perjuangan (PDIP) di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Partai berlambang banteng itu mengaku berada di luar pemerintahan sebagai “penyeimbang”, namun pernyataan tersebut mulai digugat secara terbuka oleh Partai Golkar.

Sekjen Golkar, M. Sarmuji, melontarkan kalimat yang terasa sederhana namun menohok: “Entah apa yang diseimbangkan, biar rakyat yang menilai.” Kalimat itu terdengar seperti sindiran ringan, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan politik yang tajam. Golkar seolah ingin mengatakan bahwa posisi “setengah oposisi” ala PDIP justru membingungkan publik.

Di satu sisi, PDIP tidak masuk kabinet. Namun di sisi lain, kritik keras terhadap pemerintah juga tidak terlalu terdengar. Bahkan dalam sejumlah momentum politik penting, sikap PDIP kerap terlihat abu-abu. Tidak sepenuhnya mendukung, tetapi juga tidak benar-benar berseberangan. Publik akhirnya bertanya: apakah ini strategi politik, atau sekadar upaya menjaga jarak sambil tetap menikmati pengaruh kekuasaan?

Situasi ini menjadi menarik karena untuk pertama kalinya partai-partai koalisi mulai terbuka mengusik posisi PDIP. Biasanya, partai besar seperti Golkar cenderung menjaga harmoni politik. Namun kini nada yang muncul berbeda. Ada kegelisahan yang mulai diperlihatkan secara terang-terangan.

Bukan rahasia lagi, PDIP masih memiliki pengaruh besar dalam peta politik nasional. Meski kalah dalam Pilpres, kekuatan struktur partai hingga basis massa akar rumput tetap menjadi faktor yang diperhitungkan. Karena itulah posisi “di luar tapi tidak benar-benar di luar” dianggap sebagai manuver strategis untuk menjaga daya tawar politik menuju kontestasi berikutnya.

Namun publik juga semakin kritis. Rakyat hari ini tidak lagi mudah terpukau dengan istilah-istilah politik yang terdengar idealis. Jika mengaku sebagai penyeimbang, maka kritik terhadap kebijakan pemerintah seharusnya terlihat jelas dan konsisten. Jika memilih menjadi oposisi, maka oposisi itu mestinya nyata, bukan sekadar slogan yang muncul saat dibutuhkan.

Di sinilah pernyataan Golkar terasa mengelitik. Sebab yang dipersoalkan bukan hanya sikap PDIP, tetapi juga fenomena politik nasional yang makin dipenuhi posisi serba tanggung. Politik akhirnya terlihat lebih sibuk menjaga peluang dibanding memperjuangkan garis sikap yang tegas.

Ironisnya, rakyat justru sering menjadi penonton dalam permainan citra elite partai. Mereka menyaksikan partai saling sindir, saling uji posisi, namun persoalan mendasar masyarakat tetap berjalan lambat: harga kebutuhan naik, lapangan kerja sempit, dan kepercayaan publik terhadap politik terus menurun.

Jika semua partai hanya bermain aman demi kalkulasi kekuasaan 2029, maka demokrasi akan kehilangan fungsi kontrolnya. Pemerintahan tanpa oposisi yang kuat berpotensi melahirkan ruang kritik yang lemah. Sebaliknya, oposisi tanpa keberanian hanya akan menjadi dekorasi demokrasi.

Kini publik menunggu satu hal sederhana: ketegasan. Apakah PDIP benar-benar ingin menjadi penyeimbang kekuasaan, atau hanya sedang menjaga posisi agar tetap relevan di semua sisi?

Karena pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan politik yang abu-abu. Rakyat membutuhkan keberanian untuk berkata jelas: mendukung atau mengkritik.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks