CILACAP – Persoalan sampah yang kian menggunung tak hanya menjadi masalah di perkotaan dan lingkungan masyarakat umum. Kini, perhatian terhadap pengelolaan sampah juga merambah hingga ke dalam lembaga pemasyarakatan. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, menyoroti pentingnya budaya memilah sampah diterapkan sejak dari dapur-dapur lapas di seluruh Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan saat Titiek melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6). Dalam rangkaian peninjauan berbagai program pembinaan narapidana, Titiek menyempatkan diri melihat langsung aktivitas pengolahan sampah yang dilakukan di Balai Latihan Kerja Tempat Pembuangan Akhir (BLK TPA) Nusakambangan.

Di hadapan para pengelola, Titiek terlihat antusias mempelajari proses pemilahan dan pengolahan sampah yang dilakukan para warga binaan. Ia menanyakan bagaimana sampah dipisahkan dan dimanfaatkan kembali agar memiliki nilai ekonomi serta manfaat bagi lingkungan.

Menurut penjelasan mitra yang mendampingi pelatihan, sampah organik diolah hingga menjadi material menyerupai debu yang kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk, sementara sampah plastik dipisahkan untuk dijual kembali. Mendengar hal tersebut, putri Presiden ke-2 RI Soeharto itu berharap ke depan fasilitas pengolahan di Nusakambangan semakin berkembang dan dilengkapi dengan mesin pengolah plastik agar limbah yang ada dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar.

Namun perhatian Titiek tidak berhenti pada pengolahan akhir. Ia justru menilai kebiasaan memilah sampah seharusnya sudah dimulai dari sumbernya, yakni dari dapur-dapur lapas. Menurutnya, pemisahan antara sampah organik, plastik, kaleng dan sisa sayuran akan memudahkan proses pengelolaan sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Pesan itu langsung disampaikan kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto yang turut mendampingi kunjungan. Titiek berharap budaya memilah sampah dapat menjadi kebiasaan baru di seluruh lembaga pemasyarakatan di Indonesia.

Usulan tersebut mendapat respons positif dari Menteri Agus yang menyatakan siap menindaklanjuti gagasan tersebut. Langkah itu dinilai sejalan dengan transformasi besar yang tengah dilakukan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan.

Pulau yang selama ini identik dengan penjara berkeamanan tinggi kini perlahan berubah menjadi pusat pembinaan produktif. Berbagai fasilitas pelatihan telah dibangun, mulai dari peternakan ayam petelur, tambak udang, budidaya ikan, produksi pupuk organik, pengolahan sampah, hingga workshop batako berbahan limbah fly ash bottom ash (FABA). Tujuannya adalah membekali para narapidana dengan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.

Di tengah ancaman darurat sampah yang dihadapi banyak daerah di Indonesia, upaya membangun budaya memilah sampah dari lingkungan terkecil dinilai menjadi langkah penting. Apa yang diterapkan di Nusakambangan diharapkan tidak hanya menjadi proyek percontohan, tetapi juga mampu melahirkan budaya baru yang lebih ramah lingkungan, bahkan hingga ke balik tembok penjara.

Diambil dari beberapa sumber dan diolah Tim Redaksi Radar Indo Media.

Reporter: Redaksi