PEKANBARU – Panggung perebutan kursi orang nomor satu di Universitas Riau (Unri) resmi dimulai. Senat Universitas Riau menetapkan delapan bakal calon rektor untuk periode 2026-2030 dalam rapat paripurna yang digelar di Gedung Rektorat Kampus Bina Widya, Rabu (17/6). Jumlah ini menjadi yang terbanyak dalam sejarah pemilihan rektor Unri sejak kampus tersebut berdiri pada 1962.

Delapan nama yang dinyatakan lolos tahap penjaringan berasal dari berbagai latar belakang akademik, mulai dari Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, FMIPA, FKIP, Fakultas Perikanan dan Kelautan, hingga kalangan luar kampus dari LLDIKTI Wilayah III dan Perbanas Institute.

Adapun delapan bakal calon rektor tersebut yakni:

Prof Ahmad Fadli, ST, MT, PhD (Fakultas Teknik Unri)

Aldrin Herwany, SE, MM, PhD (LLDIKTI Wilayah III/Perbanas Institute)

Prof Dr Elfizar, SSi, MKom (FMIPA Unri)

Prof Dr Firdaus, SH, MH (Fakultas Hukum Unri)

Prof Dr Iwantono, MPhil (FMIPA Unri)

Prof Dr Jimmi Copriady, MSi (FKIP Unri)

Dr Mexsasai Indra, SH, MH (Fakultas Hukum Unri)

Prof Dr Nofrizal, SPi, MSi (Fakultas Perikanan dan Kelautan Unri).

Ketua Panitia Pemilihan Rektor (Pilrek) Unri, Dr HM Rasuli, menegaskan seluruh tahapan sejauh ini telah berjalan secara tertib, transparan, objektif, akuntabel, profesional, dan bermartabat. Panitia memastikan proses pemilihan mengacu pada peraturan yang berlaku dan telah dikoordinasikan dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Tahapan berikutnya akan berlangsung pada 8 Juli 2026. Para bakal calon akan memaparkan visi, misi, dan program kerja sebelum Senat Unri menyaring nama-nama tersebut menjadi tiga calon rektor yang akan maju ke tahap pemilihan akhir.

Pemilihan rektor kali ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan kampus. Unri sedang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari peningkatan kualitas riset, penguatan daya saing internasional, hilirisasi inovasi, hingga tuntutan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di dunia kerja.

Karena itu, pertarungan delapan nama ini sejatinya bukan sekadar adu popularitas di lingkungan kampus. Yang dipertaruhkan adalah arah Universitas Riau empat tahun ke depan: apakah mampu melompat menjadi kampus yang lebih kompetitif dan berdaya saing global, atau kembali berjalan di tempat.

Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com.

Reporter: Redaksi