PELALAWAN – Di saat anak-anak seusianya menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain, tiga bocah di Kabupaten Pelalawan justru diduga dipaksa turun ke jalan menjadi manusia silver dan pengemis. Lebih miris lagi, mereka disebut harus menyetor uang ratusan ribu rupiah setiap hari atau menerima hukuman berupa pemukulan.
Kasus ini terungkap setelah warga melaporkan adanya keributan yang melibatkan tiga anak di depan sebuah pusat perbelanjaan di Pangkalan Kerinci, Jumat (12/6). Saat didatangi polisi, seorang bocah perempuan berinisial PW (9) menolak pulang ke rumah karena mengaku takut dipukuli apabila tidak mencapai target setoran.
Polisi kemudian menemukan tiga anak berusia 9 hingga 11 tahun, yakni MH (11), RA (9), dan PW (9). Dua di antaranya merupakan anak kandung pasangan suami istri berinisial MM (46) dan SM (32), sementara satu korban lainnya diakui sebagai cucu pelaku dan masih didalami status hubungan keluarganya.
Dari hasil pemeriksaan awal, anak-anak tersebut diduga diwajibkan membawa pulang uang setoran hingga Rp500 ribu per hari. Jika target tidak tercapai, mereka mengaku mendapat ancaman dan kekerasan fisik. Bahkan, ada informasi bahwa para bocah itu setiap hari diantar ke lampu merah di Pangkalan Kerinci pada sore hari dan baru dijemput pada malam hari setelah mengemis dan menjadi manusia silver.
Polisi bergerak cepat. Pasangan MM dan SM langsung diamankan untuk menjalani pemeriksaan mendalam. Keduanya diduga melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak terkait eksploitasi ekonomi terhadap anak.
Kasus ini kembali menampar nurani publik. Fenomena manusia silver yang selama ini dianggap sekadar pemandangan rutin di persimpangan jalan ternyata menyimpan sisi gelap yang jauh lebih mengkhawatirkan. Di balik tubuh yang dicat warna perak dan tangan kecil yang mengetuk kaca mobil, bisa jadi ada anak-anak yang kehilangan hak untuk belajar, bermain, dan merasakan masa kecil yang layak.
Anak seharusnya dilindungi, bukan dijadikan mesin pencari uang. Sebab ketika target setoran lebih penting daripada masa depan mereka, yang dipertaruhkan bukan hanya masa kecil seorang anak, tetapi juga masa depan generasi yang seharusnya tumbuh dengan kasih sayang, bukan ketakutan.
Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com.