PASIR PENGARAIAN – Ketika pemerintah berbicara tentang ketahanan energi nasional, sebagian warga Rokan Hulu justru kembali berhadapan dengan persoalan yang lebih sederhana: mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan mereka.

Antrean panjang BBM kembali mengular di sejumlah titik. Pemandangan yang sebenarnya tidak asing bagi masyarakat. Kendaraan berbaris sejak pagi. Pengendara menunggu dengan harapan tangki terisi sebelum stok kembali habis.

Bagi warga, ini bukan sekadar antrean.

Ini soal waktu yang hilang.

Ini soal pekerjaan yang tertunda.

Ini soal aktivitas ekonomi yang ikut tersendat hanya karena bahan bakar yang seharusnya tersedia justru sulit didapatkan.

Di atas kertas, distribusi energi nasional selalu digambarkan berjalan lancar. Namun di lapangan, kenyataan sering kali berbeda. Ketika pasokan terganggu atau distribusi tersendat, masyarakatlah yang pertama merasakan dampaknya.

Pedagang harus menunggu lebih lama.

Petani kesulitan mendapatkan solar untuk operasional.

Pengusaha angkutan menghitung ulang biaya perjalanan.

Dan warga biasa terpaksa mengorbankan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter BBM.

Yang membuat situasi ini semakin mengkhawatirkan adalah karena persoalan serupa bukan terjadi sekali dua kali.

Setiap kali antrean muncul, penjelasannya hampir selalu sama: distribusi terlambat, pasokan berkurang, atau permintaan meningkat. Namun setelah bertahun-tahun, masyarakat mulai bertanya, mengapa masalah yang sama terus berulang?

Karena bagi warga, yang dibutuhkan bukan alasan.

Yang dibutuhkan adalah kepastian.

Energi adalah urat nadi kehidupan daerah. Ketika BBM sulit diperoleh, bukan hanya kendaraan yang berhenti bergerak. Aktivitas ekonomi ikut melambat. Produktivitas menurun. Biaya hidup perlahan meningkat.

Di daerah yang masih sangat bergantung pada transportasi darat, kelancaran distribusi BBM bukan sekadar urusan bisnis. Ia menyangkut stabilitas kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pemerintah daerah, Pertamina, dan seluruh pihak terkait tentu harus bergerak cepat memastikan pasokan kembali normal. Sebab semakin panjang antrean, semakin besar pula keresahan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Rohul tidak membutuhkan antrean yang lebih panjang.

Rohul membutuhkan kepastian bahwa kebutuhan dasar masyarakat tidak berubah menjadi barang langka.

Karena bagi rakyat kecil, waktu yang habis di SPBU adalah penghasilan yang tidak jadi dibawa pulang.

Reporter: Redaksi