PEKANBARU – Di tengah derasnya arus kabar tentang konflik politik, kriminalitas, dan pertarungan kepentingan, ada berita yang sering luput mendapat sorotan.
Berita tentang kemanusiaan.
Di Riau, umat Buddha yang tergabung dalam WALUBI berhasil mengumpulkan 228 kantong darah melalui kegiatan donor darah yang digelar sebagai bagian dari aksi sosial kemasyarakatan. Angka itu mungkin terlihat sederhana di atas kertas. Namun bagi pasien yang membutuhkan transfusi darah, jumlah tersebut bisa menjadi perbedaan antara harapan dan kehilangan.
Darah adalah salah satu hal yang tidak bisa diproduksi pabrik.
Ia tidak bisa dicetak oleh teknologi secanggih apa pun. Tidak bisa diimpor saat dibutuhkan mendadak. Satu-satunya sumbernya adalah manusia yang bersedia berbagi dengan sesama.
Karena itu, setiap kantong darah sejatinya adalah bentuk solidaritas paling nyata.
Tidak mengenal agama.
Tidak mengenal suku.
Tidak mengenal pilihan politik.
Saat darah mengalir ke tubuh pasien di ruang perawatan, yang bekerja bukan identitas pemberinya. Yang bekerja adalah kemanusiaan.
WALUBI sendiri selama ini dikenal sebagai organisasi sosial keagamaan yang aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan aksi kemanusiaan. Semangat pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu tujuan utama organisasi tersebut.
Yang menarik, kegiatan donor darah selalu mengajarkan satu pelajaran sederhana.
Bahwa membantu sesama tidak selalu membutuhkan kekayaan besar.
Tidak harus menjadi pejabat.
Tidak harus menjadi pengusaha.
Kadang cukup meluangkan waktu beberapa menit dan memberikan setetes bagian dari diri sendiri untuk menyelamatkan orang lain.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, aksi seperti ini menjadi pengingat bahwa rasa peduli masih hidup di tengah masyarakat.
Bahwa masih ada orang-orang yang datang bukan untuk meminta.
Melainkan untuk memberi.
Mungkin mereka tidak akan pernah tahu siapa yang menerima darah itu.
Mungkin mereka tidak akan pernah bertemu dengan pasien yang tertolong.
Namun justru di situlah letak nilai kemanusiaannya.
Berbuat baik tanpa menunggu dikenal.
Menolong tanpa berharap balasan.
Karena pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah daerah bukan hanya gedung yang menjulang atau investasi yang terus bertambah.
Tetapi juga seberapa kuat warganya menjaga kepedulian terhadap sesama.
Dan 228 kantong darah itu adalah bukti bahwa kemanusiaan masih mengalir deras di Bumi Lancang Kuning.