PEKANBARU – Senyum petani sawit yang sempat merekah kini kembali mengendur.

Belum lama menikmati harga tandan buah segar (TBS) di atas Rp3.700 per kilogram, pekebun sawit di Riau harus menerima kenyataan pahit. Dinas Perkebunan (Disbun) Riau resmi menetapkan harga TBS sawit mitra swadaya turun cukup tajam untuk periode 3–9 Juni 2026.

Angkanya tidak main-main.

Harga TBS kelompok umur 9 tahun terkoreksi sebesar Rp437,44 per kilogram atau sekitar 11,79 persen, sehingga harga pembelian turun menjadi Rp3.271,91 per kilogram.

Bagi petani, penurunan lebih dari Rp400 per kilogram bukan sekadar angka statistik.

Itu berarti berkurangnya jutaan rupiah pendapatan dalam sekali panen bagi mereka yang memiliki kebun produktif.

Yang membuat banyak pekebun bertanya-tanya, penurunan ini terjadi hanya beberapa pekan setelah harga sawit sempat berada pada level yang jauh lebih tinggi. Bahkan pada April lalu, harga TBS kelompok umur 9 tahun sempat menembus kisaran Rp4.075 per kilogram.

Lalu apa penyebabnya?

Menurut hasil penetapan tim harga, penyebab utama berasal dari melemahnya harga Crude Palm Oil (CPO) dan kernel di pasar. Ketika dua komoditas utama tersebut turun, harga TBS di tingkat petani otomatis ikut terkoreksi.

Artinya, persoalan kali ini bukan karena produksi kebun menurun.

Bukan pula karena kualitas buah petani memburuk.

Tetapi lebih karena tekanan pasar yang terjadi di sektor hilir dan perdagangan minyak sawit.

Kondisi ini tentu memunculkan kekhawatiran baru.

Sebab beberapa hari lalu petani sawit di Rokan Hulu sempat mendapat angin segar setelah banyak pabrik membeli TBS di atas Rp3.000 per kilogram. Kini, meski harga masih berada di atas batas psikologis tersebut, tren penurunannya membuat petani kembali waspada.

Mereka khawatir jika pelemahan berlanjut, harga sawit bisa kembali jatuh seperti yang pernah terjadi pada periode-periode sebelumnya.

Di sisi lain, Disbun Riau menegaskan proses penetapan harga tetap dilakukan sesuai regulasi yang berlaku dan terus berupaya memperbaiki tata kelola agar harga yang ditetapkan mencerminkan kondisi pasar secara adil bagi petani maupun perusahaan.

Namun bagi petani, yang paling penting bukanlah istilah regulasi atau formula perhitungan.

Yang mereka lihat adalah hasil akhir.

Berapa harga buah yang diterima saat timbangan berhenti bergerak.

Berapa uang yang dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Karena itu, setiap penurunan harga selalu terasa langsung di dapur rumah tangga petani.

Pertanyaannya sekarang:

Apakah ini hanya koreksi sementara?

Ataukah awal dari tren penurunan yang lebih panjang?

Jawabannya akan sangat bergantung pada pergerakan harga CPO dan kernel dalam beberapa pekan ke depan.

Yang jelas, ketika sawit turun ratusan rupiah dalam satu pekan, yang bergetar bukan hanya pasar.

Tetapi juga harapan ribuan petani yang menggantungkan hidupnya dari buah sawit.

Catatan kaki: Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com.

Reporter: Redaksi