PASIR PENGARAIAN – Setelah beberapa pekan dihantui harga sawit yang turun tajam, kabar baik akhirnya datang untuk petani di Rokan Hulu.

Harga tandan buah segar (TBS) sawit perlahan kembali bergerak naik. Bahkan, sebanyak 23 pabrik kelapa sawit (PKS) di Rokan Hulu dilaporkan telah membeli TBS petani dengan harga di atas Rp3.000 per kilogram.

Bagi petani, angka Rp3.000 bukan sekadar nominal.

Itu batas psikologis.

Ketika harga berada di bawah angka tersebut, banyak petani mulai mengeluh karena biaya produksi, pupuk, perawatan kebun, hingga kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Namun saat harga kembali menembus Rp3.000, setidaknya ada ruang bernapas yang lebih lega.

Yang menarik, kenaikan harga ini tidak terjadi begitu saja.

Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu disebut melakukan berbagai langkah intervensi terhadap tata niaga sawit. Mulai dari pemantauan lapangan, komunikasi dengan pabrik kelapa sawit, hingga pengawasan terhadap harga pembelian TBS agar tidak merugikan petani.

Sebelumnya, harga sawit sempat menjadi keluhan utama petani.

Bahkan dalam beberapa kasus, harga pembelian TBS di sejumlah pabrik dilaporkan turun jauh dari harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Kondisi itu memicu keresahan karena terjadi saat ribuan keluarga di Riau menggantungkan hidup pada komoditas sawit.

Karena itu, pemerintah daerah turun langsung.

Wakil Bupati Rohul bersama jajaran terkait bahkan melakukan inspeksi ke sejumlah PKS untuk memastikan harga pembelian berjalan sesuai ketentuan dan tidak merugikan petani. Dari hasil pemantauan, masih ditemukan beberapa pabrik yang membeli TBS di bawah harga yang diharapkan sehingga menjadi perhatian pemerintah daerah.

Namun kini situasinya mulai berubah.

Sebanyak 23 PKS disebut telah membeli TBS di atas Rp3.000 per kilogram. Angka itu menjadi sinyal positif bahwa upaya stabilisasi harga mulai menunjukkan hasil di lapangan.

Meski begitu, persoalan belum sepenuhnya selesai.

Harga sawit masih sangat dipengaruhi kondisi pasar global, harga crude palm oil (CPO), harga kernel, hingga sentimen ekspor. Dalam beberapa hari terakhir, harga referensi sawit di sejumlah wilayah Indonesia bahkan masih mengalami fluktuasi akibat perubahan pasar internasional.

Artinya, kenaikan harga hari ini belum tentu menjamin stabilitas esok hari.

Di sisi lain, petani berharap momentum ini tidak hanya berlangsung sesaat.

Mereka ingin harga yang lebih adil.

Mereka ingin pabrik membeli buah sesuai kualitas dan ketentuan yang berlaku.

Dan mereka ingin hasil kerja berbulan-bulan di kebun tidak dipermainkan oleh gejolak pasar maupun praktik tata niaga yang merugikan.

Pertanyaannya sekarang sederhana.

Apakah harga sawit akan terus bertahan di atas Rp3.000?

Ataukah ini hanya jeda singkat sebelum kembali turun?

Yang jelas, bagi ribuan petani di Rokan Hulu, angka Rp3.000 hari ini bukan sekadar statistik.

Ia adalah harapan.

Harapan bahwa keringat di kebun masih memiliki nilai yang layak untuk diperjuangkan.

Catatan kaki: Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com.

Reporter: Redaksi