SAN FRANCISCO – Saat sebagian besar mahasiswa masih sibuk mengejar skripsi dan berburu pekerjaan pertama, seorang pemuda bernama Surya Midha justru mengambil keputusan yang dianggap nekat: keluar dari kampus dan mempertaruhkan masa depannya di dunia startup kecerdasan buatan (AI).

Hasilnya?

Di usia baru 22 tahun, Surya Midha kini tercatat sebagai salah satu miliarder self-made termuda di dunia dengan kekayaan mencapai US$2,2 miliar atau sekitar Rp39 triliun. Angka yang bahkan membuat banyak CEO perusahaan besar terlihat biasa-biasa saja.

Nama Surya Midha melejit setelah startup AI bernama Mercor yang ia dirikan bersama dua rekannya sukses meledak di tengah demam industri kecerdasan buatan global. Perusahaan tersebut bergerak di bidang perekrutan tenaga kerja berbasis AI dan kini memiliki valuasi yang disebut telah menembus US$10 miliar setelah mendapatkan suntikan pendanaan raksasa.

Yang membuat kisah ini semakin mencuri perhatian adalah fakta bahwa Surya menjadi miliarder lebih muda dibanding pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, yang mencapai status tersebut pada usia 23 tahun. Kini Surya sudah menyandang gelar miliarder di usia 22 tahun.

Lahir di Mountain View dan besar di San Jose, California, Surya sebenarnya menempuh pendidikan di Georgetown University. Namun pada 2023 ia memilih meninggalkan dunia akademik demi fokus membangun Mercor bersama teman-teman sekolahnya. Keputusan itu sempat dianggap berisiko, tetapi justru menjadi titik balik yang mengubah hidupnya secara drastis.

Mercor sendiri bukan startup biasa.

Platform tersebut menggunakan teknologi AI untuk melakukan proses perekrutan tenaga kerja secara otomatis, mulai dari penyaringan CV, analisis kemampuan kandidat, hingga wawancara berbasis AI. Sistem ini membuat perusahaan-perusahaan teknologi dapat mencari talenta lebih cepat tanpa proses HR konvensional yang panjang dan mahal. Bahkan OpenAI disebut menjadi salah satu klien yang menggunakan layanan mereka.

Ledakan industri AI menjadi bahan bakar utama kesuksesan Mercor. Dalam waktu relatif singkat, pendapatan perusahaan melonjak tajam dan menarik perhatian investor kelas dunia. Nilai perusahaan yang semula hanya startup kecil berubah menjadi raksasa baru Silicon Valley bernilai miliaran dolar.

Fenomena Surya Midha juga memperlihatkan perubahan besar dalam peta ekonomi global. Jika dulu kekayaan raksasa lahir dari minyak, properti, atau manufaktur, kini miliaran dolar dapat tercipta dari algoritma, data, dan kecerdasan buatan.

Namun kisah ini juga memunculkan perdebatan.

Apakah pendidikan formal masih menjadi jalan utama menuju kesuksesan?

Ataukah era AI telah membuka babak baru, di mana keberanian mengambil risiko dan kemampuan membaca peluang jauh lebih menentukan dibanding sekadar gelar akademik?

Yang pasti, Surya Midha sudah membuktikan satu hal.

Di era kecerdasan buatan, anak muda yang berani keluar dari jalur aman bisa saja menjadi miliarder sebelum teman-temannya wisuda.

Radar Indo Media

Reporter: Redaksi