Pencarian

RadarIndoMedia TV YouTube

KALBAR KEJAR KERETA API, PUBLIK BERTANYA: MAMPUKAH WACANA MENJADI REL YANG BENAR-BENAR TERBANGUN?

Selasa, 02 Juni 2026 • 12:26:51 WIB
KALBAR KEJAR KERETA API, PUBLIK BERTANYA: MAMPUKAH WACANA MENJADI REL YANG BENAR-BENAR TERBANGUN?

PONTIANAK – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat kembali menyuarakan dukungan terhadap rencana pembangunan jalur kereta api Trans Kalimantan. Alasannya terdengar menjanjikan: menekan biaya logistik, memperkuat hilirisasi industri bauksit dan sawit, serta mengoptimalkan peran Pelabuhan Internasional Kijing sebagai gerbang ekspor.

Namun di balik optimisme tersebut, publik mulai mempertanyakan satu hal mendasar: apakah ini benar-benar proyek yang akan diwujudkan, atau sekadar daftar panjang rencana yang berulang kali muncul setiap pergantian pemerintahan?

Pemprov Kalbar menilai jalur kereta api menjadi kebutuhan strategis untuk mengangkut komoditas dalam jumlah besar dengan biaya lebih murah dibanding ketergantungan pada angkutan jalan. Harapan itu bukan tanpa alasan. Selama ini distribusi barang di Kalbar masih bertumpu pada jalan darat dan jalur sungai yang dinilai kurang efisien untuk menopang pertumbuhan industri skala besar.

Tetapi persoalannya tidak sesederhana membangun rel di atas peta.

Rencana jaringan kereta api Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer masih berada pada tahap perencanaan dan penghitungan lintas kementerian. Pemerintah pusat sendiri belum mengumumkan kepastian pendanaan maupun jadwal konstruksi.

Di sisi lain, masyarakat Kalbar sudah terlalu sering mendengar narasi serupa selama bertahun-tahun. Wacana kereta api muncul, dibahas dalam rapat, masuk pemberitaan, lalu menghilang tanpa jejak pembangunan yang nyata. Bahkan sejak beberapa tahun lalu, berbagai pejabat daerah telah menyuarakan kebutuhan transportasi rel di Kalbar, namun hingga hari ini satu meter pun jalur kereta belum terbangun.

Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah proyek ini akan menjadi instrumen nyata untuk mendorong pemerataan ekonomi, atau hanya menjadi jargon pembangunan yang nyaman dikonsumsi publik menjelang agenda-agenda strategis nasional.

Memang benar, industri bauksit dan sawit membutuhkan sistem logistik yang lebih murah dan efisien. Pelabuhan Kijing juga membutuhkan dukungan infrastruktur hinterland yang kuat agar mampu bersaing dengan pelabuhan besar lainnya. Namun pengalaman menunjukkan bahwa proyek raksasa selalu menghadapi tantangan klasik: pembebasan lahan, kepastian investasi, kelayakan ekonomi, hingga keberanian politik pemerintah untuk mengeksekusi proyek tersebut.

Jika pemerintah serius, publik tentu akan mendukung. Namun jika yang tersedia hanya seminar, rapat koordinasi, dan pernyataan optimistis tanpa progres fisik yang jelas, maka masyarakat berhak mempertanyakan keseriusan seluruh pihak.

Karena bagi warga Kalimantan Barat, yang dibutuhkan bukan lagi janji tentang rel kereta api di masa depan.

Yang dibutuhkan adalah suara lokomotif pertama yang benar-benar melintas di tanah Kalbar.

Radar Indo Media

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks