Pencarian

RadarIndoMedia TV YouTube

Xi Jinping ke Korea Utara: Persahabatan Lama atau Negosiasi Kepentingan?

Selasa, 09 Juni 2026 • 13:31:43 WIB
Xi Jinping ke Korea Utara: Persahabatan Lama atau Negosiasi Kepentingan?

PYONGYANG – Ketika Presiden China Xi Jinping mendarat di Korea Utara setelah hampir tujuh tahun tidak melakukan kunjungan resmi, dunia langsung bertanya-tanya.

Apakah ini sekadar kunjungan persahabatan antara dua negara komunis yang telah lama bersekutu?

Atau ada agenda yang jauh lebih besar di balik karpet merah yang digelar Kim Jong Un?

Pertanyaan itu muncul karena kunjungan Xi berlangsung pada saat peta geopolitik Asia Timur sedang berubah cepat. Hubungan Korea Utara dengan Rusia semakin erat, sementara persaingan China dan Amerika Serikat terus memanas, terutama terkait Taiwan, Laut China Selatan, dan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik.

Secara simbolik, kunjungan ini memang menegaskan bahwa Beijing dan Pyongyang masih memiliki hubungan yang sangat dekat. Kedua negara bahkan merayakan 65 tahun perjanjian persahabatan yang menjadi fondasi hubungan mereka sejak era Perang Dingin. Xi dan Kim sama-sama menegaskan komitmen memperkuat kerja sama politik, ekonomi, dan keamanan.

Namun di balik bahasa diplomasi yang penuh senyum dan seremoni, terdapat kepentingan strategis yang tidak bisa diabaikan.

Bagi China, Korea Utara memiliki nilai yang sangat penting. Negara tertutup itu menjadi "zona penyangga" antara China dan Korea Selatan yang merupakan sekutu utama Amerika Serikat. Selama Korea Utara tetap berada dalam orbit Beijing, China memiliki lapisan perlindungan strategis terhadap kehadiran militer Amerika di kawasan.

Masalahnya, dalam beberapa tahun terakhir Kim Jong Un mulai terlihat semakin dekat dengan Rusia.

Kerja sama militer Pyongyang-Moskow meningkat tajam sejak perang Ukraina berlangsung. Hubungan yang semakin erat tersebut memunculkan kekhawatiran di Beijing bahwa pengaruh China terhadap Korea Utara perlahan mulai berkurang.

Di sinilah kunjungan Xi menjadi menarik.

Banyak analis menilai Beijing sedang berupaya mengingatkan Kim Jong Un bahwa China tetap merupakan mitra ekonomi dan politik paling penting bagi Korea Utara. Dengan kata lain, kunjungan ini bukan hanya soal persahabatan, tetapi juga upaya menjaga pengaruh dan memastikan Pyongyang tidak terlalu jauh bergerak ke orbit Moskow.

Sementara itu, Kim Jong Un juga memiliki kepentingan sendiri.

Setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi internasional, ekonomi Korea Utara membutuhkan napas baru. China merupakan mitra dagang terbesar sekaligus jalur ekonomi paling vital bagi Pyongyang. Dukungan Beijing dapat membantu memperkuat stabilitas ekonomi Korea Utara tanpa harus mengubah kebijakan politik dalam negeri maupun program nuklirnya.

Menariknya, isu nuklir justru tidak menjadi fokus utama yang diumumkan kepada publik. Pembahasan lebih banyak diarahkan pada kerja sama ekonomi, transportasi, budaya, dan hubungan strategis kedua negara. Hal itu menunjukkan bahwa kedua pemimpin tampaknya lebih tertarik memperkuat posisi masing-masing di tengah dinamika global dibanding membuka babak baru perundingan denuklirisasi.

Karena itu, kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara sulit disebut sebagai sekadar kunjungan persahabatan.

Di dunia politik internasional, persahabatan hampir selalu berjalan beriringan dengan kepentingan.

China ingin mempertahankan pengaruhnya.

Korea Utara ingin memperkuat posisinya.

Keduanya membutuhkan satu sama lain.

Dan di tengah rivalitas kekuatan besar dunia, Pyongyang sekali lagi menjadi panggung tempat kepentingan geopolitik dimainkan dengan sangat hati-hati.

Di permukaan, yang terlihat adalah senyum, upacara kenegaraan, dan pidato tentang persahabatan.

Namun di baliknya, berlangsung tawar-menawar kepentingan yang akan memengaruhi keseimbangan kekuatan di Asia Timur dalam beberapa tahun ke depan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks