BANDUNG – Saat banyak daerah masih sibuk mencari lokasi pembuangan sampah baru, sekelompok peneliti dari Universitas Islam Bandung (Unisba) memilih mencari cara agar sampahnya yang hilang.

Bukan dipindahkan. Bukan ditimbun.

Tapi dimusnahkan.

Tim peneliti Unisba mengembangkan reaktor plasma yang diklaim mampu mengolah berbagai jenis sampah residu, termasuk sampah yang selama ini sulit ditangani seperti popok sekali pakai dan pembalut bekas. Teknologi ini digadang-gadang menjadi salah satu solusi atas krisis sampah yang terus menghantui kota-kota besar, khususnya Bandung.

Berbeda dengan insinerator konvensional yang umumnya hanya efektif untuk sampah kering, reaktor plasma dirancang untuk mengolah sampah campuran. Teknologi ini menggunakan plasma dingin dengan emisi yang lebih rendah dan residu akhir yang jauh lebih sedikit.

Yang membuat banyak pihak mulai melirik inovasi ini adalah kapasitasnya.

Dalam pengembangannya, reaktor plasma Unisba disebut mampu mengolah antara 0,5 hingga 1 ton sampah per jam. Pada skala yang lebih besar, teknologi serupa yang diuji di TPS Arcamanik bahkan ditargetkan mampu menangani hingga 10 ton sampah per hari dengan tingkat polusi yang minim.

Masalah sampah memang sudah lama menjadi luka terbuka Bandung.

Setiap hari ribuan ton sampah diproduksi masyarakat. Ketika kapasitas tempat pembuangan terbatas dan penolakan warga terhadap lokasi baru terus bermunculan, kebutuhan terhadap teknologi pengolahan sampah menjadi semakin mendesak.

Di sinilah reaktor plasma menawarkan harapan.

Menurut tim peneliti, teknologi tersebut hanya membutuhkan energi listrik untuk beroperasi. Selain memusnahkan sampah, prosesnya juga menghasilkan produk sampingan yang masih bisa dimanfaatkan seperti liquid smoke, konsentrat karbon-logam, hingga pupuk cair pada beberapa model pengembangannya.

Namun seperti banyak inovasi lain, tantangannya bukan hanya soal teknologi.

Biaya investasi awal yang mencapai ratusan juta rupiah menjadi salah satu pekerjaan rumah. Selain itu, efektivitas jangka panjang dan kemampuan diterapkan secara luas masih harus dibuktikan melalui berbagai uji coba lapangan.

Meski demikian, pemerintah daerah mulai menunjukkan ketertarikan. Uji coba telah dilakukan di kawasan Arcamanik dan mendapat perhatian dari sejumlah pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga kementerian.

Bagi masyarakat, persoalannya sebenarnya sederhana.

Mereka tidak terlalu peduli apakah solusi itu bernama plasma, insinerator, atau teknologi lainnya.

Yang mereka inginkan hanyalah satu: sampah tidak lagi menumpuk di jalan, tidak menimbulkan bau, dan tidak berubah menjadi krisis setiap beberapa bulan sekali.

Jika reaktor plasma ini benar-benar bekerja sesuai klaim para penelitinya, maka Bandung mungkin sedang melihat secercah jawaban dari masalah yang selama ini terasa tak pernah selesai.

Karena di kota yang terus menghasilkan sampah setiap hari, inovasi bukan lagi pilihan. Melainkan kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com.

Reporter: Redaksi