BANGKINANG – Api selalu datang dengan cara yang sama.
Cepat. Brutal. Dan sering kali tidak memberi kesempatan bagi korban untuk menyelamatkan apa pun.
Itulah yang terjadi di Pasar Inpres Bangkinang. Enam unit ruko dilaporkan hangus dilalap si jago merah. Dalam hitungan jam, bangunan yang selama ini menjadi tempat mencari nafkah berubah menjadi puing-puing dan arang.
Seorang warga mengalami luka bakar saat kebakaran berlangsung. Sementara para pedagang lainnya hanya bisa menyaksikan kobaran api melahap barang dagangan, peralatan usaha, dan harapan yang mereka bangun selama bertahun-tahun.
Kepulan asap membumbung tinggi di langit Bangkinang. Warga berhamburan mendatangi lokasi. Sebagian mencoba membantu. Sebagian lainnya hanya bisa berdiri mematung menyaksikan amukan api yang terus membesar.
Petugas pemadam kebakaran berjibaku memadamkan kobaran yang dengan cepat merambat dari satu bangunan ke bangunan lain. Kondisi ruko yang berdempetan membuat pekerjaan petugas tidak mudah.
Setiap menit menjadi pertarungan.
Bukan hanya melawan api, tetapi juga melawan kemungkinan kebakaran meluas ke bangunan lain di kawasan pasar yang padat aktivitas.
Setelah berjam-jam berupaya, api akhirnya berhasil dijinakkan. Namun ketika bara terakhir padam, pemandangan yang tersisa menyisakan luka bagi para pemilik usaha.
Karena kebakaran tidak hanya membakar bangunan.
Ia juga membakar modal usaha, sumber penghasilan, bahkan rencana masa depan yang belum sempat diwujudkan.
Hingga kini penyebab kebakaran masih diselidiki aparat berwenang. Kerugian material juga masih dalam proses pendataan.
Namun bagi para korban, angka kerugian mungkin bukan persoalan utama saat ini.
Yang lebih berat adalah memulai kembali dari nol.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa kawasan pertokoan dan pasar tradisional masih menghadapi ancaman serius dari risiko kebakaran. Instalasi listrik, sistem pengamanan, hingga kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat sering kali baru menjadi perhatian setelah musibah terjadi.
Padahal api tidak pernah memberi peringatan panjang.
Ia hanya membutuhkan satu celah kecil untuk mengubah kesibukan pasar menjadi kepanikan massal.
Dan di Pasar Inpres Bangkinang, enam ruko menjadi saksi betapa mahal harga yang harus dibayar ketika kobaran api akhirnya mengambil alih keadaan.