PEKANBARU – Tahun ajaran baru belum dimulai. Namun bagi ribuan orang tua di Riau, musim ketegangan sudah lebih dulu datang.
Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 resmi dibuka. Dinas Pendidikan Provinsi Riau pun menyiapkan posko pelayanan serta kanal pengaduan untuk mengantisipasi berbagai persoalan yang kerap muncul setiap musim penerimaan siswa baru.
Langkah itu tentu patut diapresiasi.
Sebab setiap tahun, proses penerimaan murid hampir selalu menghadirkan cerita yang sama. Ada yang bingung soal jalur pendaftaran. Ada yang kesulitan mengunggah dokumen. Ada yang mempertanyakan sistem seleksi. Tidak sedikit pula yang khawatir anaknya gagal masuk sekolah negeri yang diincar.
Bagi pemerintah, SPMB mungkin sekadar agenda rutin tahunan.
Namun bagi orang tua, ini adalah pertaruhan masa depan anak.
Karena itu, satu kesalahan kecil dalam sistem bisa memicu kepanikan besar di lapangan.
Posko pengaduan yang disiapkan Disdik sejatinya bukan hanya tempat menerima keluhan. Lebih dari itu, posko harus menjadi ruang penyelesaian masalah yang cepat dan transparan. Sebab ketika informasi simpang siur mulai beredar, keresahan masyarakat biasanya tumbuh lebih cepat daripada penjelasan resmi.
Di era digital, pendaftaran memang semakin mudah.
Tetapi teknologi tidak selalu menyelesaikan semua persoalan.
Masih ada orang tua yang kurang akrab dengan sistem daring. Masih ada wilayah dengan akses internet yang terbatas. Masih ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan langsung agar tidak salah langkah saat mendaftar.
Karena itulah kehadiran layanan pengaduan menjadi penting.
Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar aplikasi yang canggih, melainkan kepastian bahwa ketika mengalami masalah, ada pihak yang siap membantu.
SPMB sejatinya bukan hanya soal menerima murid baru.
Ia adalah ujian tahunan bagi dunia pendidikan untuk membuktikan bahwa akses terhadap sekolah dapat berlangsung secara adil, transparan, dan bebas dari praktik-praktik yang mencederai kepercayaan publik.
Orang tua tidak meminta perlakuan istimewa.
Mereka hanya ingin proses yang jelas.
Mereka hanya ingin aturan yang ditegakkan secara konsisten.
Dan mereka hanya ingin anak-anak mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan yang layak.
Karena setiap musim penerimaan siswa baru, yang diperebutkan bukan sekadar bangku sekolah.
Melainkan harapan tentang masa depan.