MEDAN – Alam tidak pernah mengirim surat protes.
Ia tidak menggelar konferensi pers. Tidak turun ke jalan membawa spanduk. Tidak berdebat di ruang rapat.
Alam hanya memberi tanda.
Kadang berupa banjir yang datang lebih besar dari biasanya. Kadang longsor yang menelan rumah dan jalan. Kadang sungai yang tak lagi mampu menampung air hujan yang turun dari pegunungan.
Dan ketika semua itu terjadi berulang-ulang, mungkin yang bermasalah bukan cuacanya semata.
Greenpeace Indonesia mengungkapkan bahwa tutupan hutan alam di Sumatera kini tinggal sekitar 10 hingga 14 juta hektare, atau kurang dari 30 persen dari luas Pulau Sumatera. Dalam lebih dari tiga dekade terakhir, sebagian besar kawasan hutan telah berubah menjadi perkebunan, pertanian, dan berbagai bentuk pemanfaatan lahan lainnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, mayoritas daerah aliran sungai (DAS) di Sumatera disebut telah berada dalam kondisi kritis karena tutupan hutan alam terus berkurang. Ketika kawasan hulu kehilangan kemampuan menyerap air, risiko banjir dan longsor menjadi semakin besar.
Di atas kertas, pembangunan memang terlihat mengesankan.
Investasi bertambah. Produksi meningkat. Lahan baru dibuka. Angka pertumbuhan bergerak naik.
Namun alam memiliki cara menghitung yang berbeda.
Setiap pohon yang hilang bukan hanya kehilangan batang dan daun. Ia juga kehilangan fungsi menahan air, menjaga tanah, dan melindungi kehidupan yang bergantung padanya.
Ketika hutan berkurang, sungai menjadi korban pertama.
Ketika sungai rusak, masyarakat menjadi korban berikutnya.
Ironisnya, kerusakan lingkungan sering kali baru menjadi perhatian setelah bencana datang. Saat rumah hanyut, jalan putus, dan korban berjatuhan, semua orang sibuk mencari penyebab. Padahal tanda-tandanya sudah lama terlihat.
Para pegiat lingkungan menilai berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi di Sumatera tidak bisa dilepaskan dari persoalan deforestasi dan alih fungsi lahan yang berlangsung bertahun-tahun.
Pertanyaannya sederhana.
Sampai kapan pembangunan akan dihitung dari berapa banyak lahan yang dibuka, bukan berapa banyak hutan yang berhasil dijaga?
Karena jika sungai-sungai terus kehilangan pelindungnya, yang datang bukan hanya banjir berikutnya.
Melainkan tagihan ekologis yang nilainya jauh lebih mahal daripada keuntungan ekonomi jangka pendek.
Alam Sumatera sedang berbicara.
Masalahnya, apakah kita masih mau mendengarkan sebelum suara itu berubah menjadi bencana yang lebih besar?