JAKARTA – Setiap kali Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan luar negeri, perdebatan selalu muncul. Ada yang melihatnya sebagai langkah strategis menjaga posisi Indonesia di tengah gejolak global. Ada pula yang bertanya sederhana: apa manfaatnya bagi rakyat?
Pemerintah menegaskan, rangkaian lawatan Presiden bukan sekadar agenda seremonial. Di tengah ketegangan geopolitik, perang di berbagai kawasan, serta ketidakpastian ekonomi dunia, Indonesia dituntut lebih aktif membangun komunikasi dengan banyak negara.
Logikanya sederhana. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perebutan pengaruh antarnegara semakin terbuka. Krisis energi, pangan, dan investasi bisa berdampak langsung hingga ke dapur masyarakat. Dalam kondisi seperti itu, diam bukan pilihan.
Karena itu, pemerintah memandang diplomasi sebagai investasi jangka panjang. Pertemuan dengan kepala negara, forum internasional, hingga penjajakan kerja sama ekonomi dianggap penting untuk membuka peluang baru bagi Indonesia.
Namun publik juga punya alasan untuk bersikap kritis.
Masyarakat tidak menghitung berapa negara yang dikunjungi Presiden. Masyarakat lebih tertarik pada hasil yang dibawa pulang. Apakah ada investasi baru? Apakah pasar ekspor bertambah? Apakah lapangan kerja terbuka lebih luas?
Sebab ukuran keberhasilan diplomasi bukan terletak pada banyaknya foto bersama pemimpin dunia. Ukurannya adalah dampak yang dirasakan masyarakat di dalam negeri.
Jika harga kebutuhan pokok tetap tinggi, kesempatan kerja sulit didapat, dan ekonomi berjalan lambat, maka publik tentu akan terus bertanya. Sebaliknya, jika diplomasi mampu menghadirkan manfaat nyata, kritik akan menjawab dirinya sendiri.
Di sinilah tantangan terbesar pemerintahan Prabowo.
Bukan bagaimana meyakinkan dunia bahwa Indonesia penting. Tetapi bagaimana membuktikan kepada rakyat bahwa setiap perjalanan, setiap pertemuan, dan setiap kesepakatan internasional benar-benar menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan.
Karena pada akhirnya rakyat tidak hidup dari diplomasi.
Rakyat hidup dari hasil diplomasi.
Catatan kaki: Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com.